Monday, February 27, 2012

2. Perempuan dan Pendidikan Islam

  1. Perempuan dan Pendidikan Islam
Islam datang, sementara kebanyakan manusia mengingkari kemanusiaan wanita dan sebagian yang lain meragukannya. Ada pula yang mengakui akan kemanusiaannya, tetapi mereka menganggap wanita itu sebagai makhluk yang diciptakan semata-mata untuk melayani kaum laki-laki.
Maka merupakan 'izzah dan kemuliaan Islam, karena dia telah memuliakan wanita dan menegaskan eksistensi kemanusiaannya serta kelayakannya untuk menerima taklif (tugas) dan tanggung jawab, pembalasan, dan berhak pula masuk surga. Islam menghargai wanita sebagai manusia yang terhormat. Sebagaimana kaum laki-laki, wanita juga mempunyai hak-hak kemanusiaan, karena keduanya berasal dari satu pohon dan keduanya merupakan dua bersaudara yang dilahirkan oleh satu ayah (bapak) yaitu Adam, dan satu ibu yaitu Hawwa.
Keduanya berasal dari satu keturunan dan sama dalam karakter kemanusiaannya secara umum. Keduanya adalah sama dalam hal beban dan tanggung jawab, dan di akherat kelak akan sama-sama menerima pembalasan. Demikian itu digambarkan oleh Al Qur'anul Karim sebagai berikut:
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinnya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An-Nisa': 1)
Jika seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan itu diciptakan oleh Rabb mereka dari jiwa yang satu (Adam), dan dari jiwa yang satu itu Allah menciptakan isterinya agar keduanya saling menyempurnakan – sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an – kemudian dari satu keluarga itu Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak, yang kesemuanya adalah hamba-hamba bagi Tuhan yang Esa, dan merupakan anak-anak dari satu bapak dan satu ibu, maka persaudaraanlah yang semestinya menyatukan mereka. Oleh karena itu Al Qur'an memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dan memelihara hubungan kasih sayang antara mereka.
Firman Allah:
" .. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim." (An-Nisa': 1)
Dengan penjelasan Al Qur'an, ini maka laki-laki adalah saudara perempuan dan perempuan adalah saudara kandung laki-laki.
Rasulullah SAW bersabda:
إن النساء شقائق الرجال
"Sesungguhnya tiada lain wanita adalah saudara sekandung kaum pria."
Berdasarkan hal di atas maka kebebasan perempuan pada dasarnya sama dengan kebebasan laki-laki, baik masalah ibadah syari’ah, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.
Dalam dunia pendidikan, setiap orang berkompetisi untuk menjadi orang yang ilmunya dapat diserap oleh orang lain dengan berbagai metode. setiap pendidik dan peserta didik mempunyai hak yang sama dalam mentransfer dan menyerap ilmu. Islam tidak hanya memerintahan setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat, yang terlebih penting adalah bagaimana setiap mereka memanfaatkan kesempatan. Karenanya Allah menciptakan manusia dengan fitrah ilahiyyah, dimana pada saatnya setiap manusia mampu membedakan mana yang benar mana yang buruk.
Perbedaan dalam menyerap ilmu bukan pada sisi ini (fitrah), namun Nampak dari fisiklynya, baik lelaki dengan perempuan jauh berbeda; misalnya akal. Dalam hal ini Islam telah menetapkan sisi perbedaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW.
يا معشر النساء ! تصدقن و أكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار إنكن تكثرن اللعن و تكفرن العشير ما رأيت من ناقصات عقل و دين أغلب لذي لب منكن أما نقصان العقل: فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل و تمكث الليالي ما تصلي و تفطر في رمضان فهذا نقصان الدين

Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyak istighfar. Sesungguhnya (pada malam Isra’) aku lihat kalian mendominasi neraka!” seorang perempuan yang kritis dan cerdas di antara kerumunan wanita itu bertanya, “Mengapa kami menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?” Beliau menjelaskan, “kalian selalu sering melaknat dan mengufuri nikmat dari suami. Memang tidak aku lihat di antara orang-orang yang kurang akal dan agama yang lebih dominan bagi orang yang bernalar sehat daripada kalian.” Seorang lelaki bertanya, “wahai Rasulullah, apa maksud kurang akal dan agama?” Beliau menjawab, “Disebut kurang akal karena kesaksian dua orang perempuan sebanding dengan seorang lai-laki. Inilah yang dimaksud berakal mius. Sedangkan yang dimaksud beragama minus adalah berdiam selama bermalam-malam tanpa melakukan shalat dan puasa pada bulan Ramadhan (saat haid). (HR. Mutafaq ‘Alaih).


Kendati demikian, Islam tidak bermaksud membatasi gerak perempuan, terlebih dalam pendidikan Islam. Kaum wanita sangat embutuhkan mauizhah dan peringatan. Islam beserta rasulnya pun sangat memperhatikan masalah ini. Akal dapat bertambah dan berkurang sebagaimana halnya keimanan dan agama. Kekurangan akal perempuan dan agamanya disebabkan ketidaksempurnaannya dalam menjalani siklus aksi dan kontinuitas amalan-amalan agama serta mengaktifkan akal, baik faktor keterpaksaan (menstruasi) maupun faktor prestasi.
Tercatat dalam sejarah perkembangan Islam masa kenabian Muhammad SAW, banyak dari kalangan kaum perempuan muslimah yang aktif dalam menyemarakkan syi’ar Islam melalui dakwah-dakwahnya. Aisyah RA. Adalah tokoh shahabiyah yang terkenal kritis, terutama terhadap shahabat-shahabat nabi SAW. yang menurutnya tidak sependapat dengan apa yang ia dapatkan dari nabi SAW. salah satu contoh, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh:
حدثنا سعيد بن أبي مريم قال: أخبرنا نافع بن عمر قال: حدثني ابن أبي ملكية: أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم: كانت لا تسمع شيئا لا تعرفه، إلا راجعت فيه حتى تعرفه، وأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من حوسب عذب). قالت عائشة: فقلت: أوليس يقول الله تعالى: {فسوف يحاسب حسابا يسيرا}. قالت: فقال: (إنما ذلك العرض، ولكن: من نوقش الحساب يهلك).
Dari Ibn Abu Mulaikah RA. dia berkata, “Setiap kali mendengar sesuatu yang belum diketahuinya, ‘Aisyah (isteri Nabi SAW.) akan mengulang-ulangnya sampai ia benar-benar mengerti. Ketika Rasulullah SAW. bersabda, “Siapa yang diintrograsi siksa maka ia akan disiksa.” Aisyah berkata, “Tapi bukankah Allah Ta’ala berfirman, “Dia akan menanyai dengan pertanyaan yang mudah. (QS. Al-Insyiqaq : 08). Beliau menjelaskan, “Itu hanya pemaparan, akan tetapi orang yang dipermasalahkan hisab maka ia pasti binasa (masuk neraka).” (HR. Bukhari no. 103)


Teks naqli ini menunjukan bahwa hak perempuan dalam pendidikan sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. terlihat bahwa Aisyah sangat antusias dalam memahami makna-makna hadits dan beliau SAW. pun tidak bosan-bosan mengulang-ulang kajian ilmu.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment