Thursday, February 23, 2012

B. Gender dalam Perspektif Pendidikan Islam


  1. Gender dalam Perspektif Pendidikan Islam
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashas: 77)

Ayat ini merupakan perintah bagi pria dan wanita untuk berusahan dan berkarier agar bisa mencapai kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat. Banyak teks yang menunjukkan perintah untuk menuntut ilmu.
Dalam sejarah Islam, banyak sekali ditemukan para wanita terkenal di bidang ilmu, sastra, fikih dan juga hadits. Memberikan pendidikan kepada wanita pada zaman sekarang sudah menjadi sesuatu yang sangat urgen, yaitu agar para wanita dapat melaksanakan segala tugas sosialnya, baik di rumah maupun dalam masyarakat dengan para teman-temannya.
Begitu juga dalam ajaran Islam, wanita juga mempunyai hak dan kesempatan berkarir dengan tidak melalaikan fungsi dan kedudukannya sebagai wanita. Cukup banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang mendorong wanita untuk berkarir.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”(An-Nisa: 32)

Ayat tersebut memberikan dorongan bahwa wanita pun bisa berkarir dan dapat mencapai prestasi sama dengan kaum pria, bergantung pada usaha dan dorongan.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashas: 77)

Ayat ini merupakan perintah bagi pria dan wanita untuk berusahan dan berkarier agar bisa mencapai kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (An-Nisa’: 124)

Allah akan menjamin (memotivasi) pria ataupun wanita yang mau bekerja (berkarier) dalam bidang apa saja yang tergolong pekerjaan baik (halal).

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 77)

Allah menyuruh wanita maupun pria agar bisa bekerja sama, saling menolong, baik dalam rangka kepentingan pekerjaan (karier) maupun untuk kepentingan ibadah. Islam tidak membedakan urusan mencari ilmu yang bermanfaat antara laki-laki dan perempuan. keduanya sama-sama diperintahkan mempelajari ilmu yang bermanfaat.
Tugas ini umum untuk kaum laki-laki dan kaum perempuan. Dalam sejarah banyak sekali ditemukan kaum perempuan yang terkenal cerdas dalam ilmu syar’i. Islam tidak melarang wanita untuk belajar berbagai macam ilmu yang bermanfaat yang ia kehendaki, karena menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, nash dalam hadits ini mencakup dua jenis insan yakni laki-laki dan wanita, sebagaimana dalam semua bentuk perintah keagamaan.
Rosyid Ridho berkata, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, walaupun tidak disebutkan kata-kata muslimah”.

Menurut Adil Fathi Abdulloh, “Wanita juga sebaiknya mempelajari seni-seni bergaul dengan anak dalam suasana-suasana yang serba gelap dan serba samar sekarang ini, di mana ia tidak bisa mengontrol dan memikul tanggung jawab mendidik mereka sendirian.

Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor berkata, “Wanita dalam masyarakat muslim dipersilahkan mempelajari ilmu apa saja yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat”.

Ibnu Hazm berkata, “Setiap muslim, yang sudah balig, berakal, laki-laki paupun perempuan, merdeka ataupun budak wajib untuk bersuci, sholat, dan puasa yang wajib”.

Yang disebutkan Ibnu Hazm ini adalah ukuran minimal yang wajib dipelajari setiap muslim dan muslimah. dalam hal ini tidak ada perbedaan antar laki-laki dan perempuan, ketika ia berada dalam bidang khusus tertentu, baik dalam urusan agama ataupun dunia, maka mempelajari bidang tersebut adalah fardu ‘ain sesuai dengan kemampuannya, sehingga ia bisa melaksanakannya dengan sebaik mungkin.
Mencari ilmu berbeda-beda bentuknya sesuai perbedaan zaman. Untuk saat ini, kita hidup dalam dunia ilmu pengetahuan, kemajuan intlektual, ilmu komputer dan internet. Wanita dituntut mengetahui semua ini, sehingga ia tahu mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya, selanjutnya ia bisa menyelamatkan anak-anaknya ke tempat yang aman dan tidak menjerumuskan mereka ke cengkeraman fitnah yang beraneka ragam.
Cakupan ilmu yang harus dicapai wanita saat ini sangatlah luas, siapa yang tidak bergabung dengan kafilah ilmu yang sesuai dengan tuntutan, ia akan jauh dari kenyataan yang sebenarnya dan akan mengalami kerugian besar di bidang pendidikan. Karena, disana ada berbagai makar dan konspirasi yang sengaja direncanakan untuk menyerang anak-anak baik di timur maupun di barat.


No comments:

Post a Comment

Post a Comment